Kamis, 22 Agustus 2019 |
FokusJambi - Peristiwa & Umum

QZ8501, Musibah Datang Tanpa Diundang

Rabu, 31 Desember 2014 | 15:39:14 WIB wib Dibaca: 949 Pengunjung
(dok: google)

Laporan Fokusjambi.com

FOKUSJAMBI.COM, JAKARTA - Pesawat AirAsia jurusan Surabaya-Singapura hilang kontak dengan menara pengawas lalu lintas udara Minggu (28/12) pagi di sekitar Tanjung Pandan, antara Belitung dan Kalimantan. Pesawat yang dikemudikan kapten pilot Irianto membawa 162 penumpang, terdiri 138 penumpang dewasa, 16 anak-anak, dan 1 bayi serta tujuh awaknya.

Airbus A320-200 ini adalah pesawat sangat canggih, memiliki kecepatan maksimal 903 km/jam. Berat kosong pesawat sekitar 42,220 kg dengan dimensi panjang 37,57m, lebar 34,09m, dan tinggi 11,76m. Kapasitas maksimal pesawat ini 179 penumpang.

Airbus A320 adalah jenis kelompok pesawat penumpang komersial jarak dekat sampai menengah yang diproduksi oleh Airbus. A320 merupakan pesawat penumpang pertama dengan sebuah sistem kendali fly-by-wire digital, di mana pilot mengendalikan penerbangan melalui penggunaan sinyal elektronik dan bukan secara mekanik dengan hendel dan sistem hidrolik.

Di Indonesia, maskapai yang mengoperasikan keluarga A320 adalah Indonesia AirAsia dan Citilink. Teknologi yang digunakan pesawat Airbus A320 antara lain sistem kontrol penerbangan fly-by-wire digital penuh dalam pesawat sipil. Kokpit digital penuh, bukan sistem hibrid seperti ditemukan di pesawat A310, Boeing 757 dan Boeing 767.

A320 juga merupakan pesawat berbadan sempit pertama yang menggunakan material komposit untuk struktur pesawat dalam jumlah signifikan. Konsep Monitoring Pesawat Elektronik Terpusat (ECAM), yang dimilikinya juga digunakan di semua pesawat Airbus yang diproduksi setelah A320.

Sistem ini secara konstan memberikan informasi mengenai mesin pesawat, bersama sistem kunci lain seperti kontrol penerbangan, tekanan dan hidrolik, kepada pilot melalui dua layar LCD di tengah panel pengendali. ECAM juga menyediakan peringatan otomatis terhadap kerusakan sistem dan memperlihatkan daftar elektronik untuk membantu mengatasi kerusakan tersebut.

Di atas kertas, dengan mengusung teknologi yang canggih dan kelengkapan peralatan pesawat ditambah pemeriksaan yang baru saja dilakukan November lalu serta dalam kondisi laik terbang yang dibuktikan dengan izin dari regulator penerbangan, pesawat AirAsia buatan tahun 2008 itu logikanya bisa mendarat dengan selamat di Singapura.

Dari sisi kapten pilot, Irianto menurut Presdir PT AirAsia Indonesia, Sunu Widiatmoko, adalah pilot berpengalaman karena telah mengantongi 20.537 jam terbang. Tetapi kenyataan berkata lain, musibah datang tanpa diundang. QZ8501 hilang  dan kemudian ditemukan jatuh di lautan.

Sebelum hilang kontak, kapten pilot sempat mengontak tower di Jakarta pada pukul 06.12 untuk meminta menyimpang dari rute penerbangan karena menghindari awan dan naik ke ketinggian 38.000 feet. "Pesawat telah meminta rute yang bukan biasanya, sebelum hilang kontak," kata Staf Khusus Kementerian Perhubungan, Hadi Mustofa.

Permintaan pilot pesawat yang lepas landas pk. 05.36 WIB dari Bandara Internasional Juanda itu, untuk berbelok ke kiri telah disetujui. Namun ATC belum mengizinkan pesawat AirAsia naik ke ketinggian 38.000 feet -- karena kondisi traffic dan koordinasi dengan adjacent ATS unit.

Direktur Utama Airnav Bambang Cahyono mengatakan, ada enam (6) pesawat yang melintas di sekitar area AirAsia QZ8510 yang hilang kontak, di antaranya adalah Garuda Indonesia, Lion Air, dan Uni Emirates.

"Saat itu, AirAsia QZ8501 berada di ketinggian 32 ribu kaki dan meminta izin untuk menambah ketinggian ke 38 ribu kaki," katanya.

Namun, pada ketinggian 38 ribu kaki, ternyata ada pesawat Garuda Indonesia sehingga Air Asia tidak bisa menambah ketinggian sesuai dengan permintaan. Pesawat itu akhirnya berbelok ke kiri, kemudian hilang kontak, ujarnya.

Awan Kolumonimbus Pukul 06.18 WIB pesawat hilang dari pantauan radar dan hilang kontak, kata Plt Dirjen Perhubungan Udara Djoko Murjatmodjo. Kemudian ATC melakukan usaha komunikasi dengan pesawat lewat prosedur pemanggilan berulang kali.

Bagi Air Asia menurut CEO-nya, Tony Fernandez, ini adalah kecelakaan yang pertama kali. Selama 13 tahun beroperasi, armada maskapai penerbangan ini telah mengangkut 220 juta penumpang, tanpa kehilangan satu orangpun.

Kumulonimbus adalah awan tebal vertikal yang menjulang sangat tinggi, padat, mirip gunung atau menara. Bagian pucuk awan ini berserabut, tampak berjalur-jalur dan hampir rata, melebar mirip bentuk landasan yang disebut anvil head. Awan ini terlibat langsung dalam badai petir dan cuaca ekstrem lainnya.

Awan ini ditakuti para penerbang, karena dapat membuat mesin dan sayap pesawat dipenuhi es. Jika memasuki awan tersebut, pilot akan menghadapi gumpalan es yang bisa berbahaya jika masuk ke dalam buletan mesin dan sayap karena bisa menempel, kata Kapten Jhon Barata eks pilot Garuda dan Merpati.

Dia menyebutkan, untuk menghindari gumpalan es menempel di mesin dan sayap pesawat setiap pilot harus menyalakan pemicu busi yang berguna sebagai tenaga ekstra guna memanaskan sayap, jendela dan mesin agar es mencair.  Jika busi dinyalakan, biasanya tenaga mesin dikurangi dan daya tahan pesawat menurun karena pesawat mempunya maksimun speed.

Bila itu yang terjadi, katanya, pesawat akan jatuh karena kurang kecepatan untuk naik. Bahayanya jika sudah jatuh pesawat berputar-putar ada juga pesawat yang tidak bisa menahan tekanan dan akhirnya meledak.  Berdasar analisis cuaca oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, semakin kuat dugaan bahwa pesawat AirAsia QZ8501 gagal menghindari awan tebal kumulonimbus yang berada pada rute penerbangannya. Keberadaan awan ini sebelumnya dinyatakan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika hari Minggu (28/12).

Kepala Pusat Meteorologi Penerbangan BMKG, Syamsul Huda mengatakan, sejak lepas landas dari Surabaya, AirAsia QZ8501 terbang dalam kondisi cuaca berawan. Saat sampai di wilayah antara Belitung dengan Kalimantan, pesawat menghadapi cuaca yang lebih buruk.

"Tim dari KNKT terus melakukan plotting dan perkiraan posisi terakhir pesawat yaitu pada koordinat 03.36.31 Lintang Selatan dan 10.94.14.6 Bujur Timur," kata Plt Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Djoko Murdjiatmo.

Upaya pencarian atas pesawat yang hilang kontak itu terus dilakukan. Sejumlah tim digerakkan antara lain pesawat TNI AU yang terbang dari Pontianak, pesawat CN 235 yang terbang dari Bandara Juanda menuju Pangkal Pinang. Pesawat Patroli Maritim CN 235 juga take off dari Batam menuju sekitar Pangkal Pinang. Sejumlah helikopter juga diterbangkan dari Bandara Halim Perdanakusuma menuju Pangkal Pinang.

Hingga hari kedua pencarian, hasilnya masih nihil. Di hari ketiga, sekira pk.11.00 Kopilot Pesawat Hercules C130 dari Lanud Halim Perdanakusuma, Letnan Satu Penerbang Tri Wibowo, melihat obyek-obyek yang mengapung di Selat Karimata - di perairan sekitar Kabupaten Ketapang, yang menyerupai manusia, tas koper, pelampung, dan serpihan pesawat.

AZ8501 jatuh di laut Berdasarkan lokasi yang ditunjukkan Tri di peta, kawasan penampakan obyek-obyek tersebut berada di sekitar Teluk Air Hitam. Diduga benda-benda itu milik pesawat AirAsia QZ8510 dan terlihat setelah Hercules melakukan penyisiran daratan, pantai, dan lautan di wilayah bagian selatan Kalimantan, selama lima jam.

Kepala Badan SAR Nasional Marsdya TNI F Henry Bambang Soelistyo memastikan bahwa serpihan pesawat, aspirator assembly/slide craft dan reservoir slide craft yang ditemukan dalam pencarian di Selat Karimata itu merupakan bagian dari pesawat AirAsia QZ8501.

Basarnas juga telah meminta bantuan dari tim teknisi AirAsia untuk mengidentifikasi benda-benda tersebut. "Hasil temuan ini sudah diakui oleh tim sama dengan yang dimiliki pesawat AirAsia yang hilang," kata Soelistyo.

Menurut informasi terbaru, Rabu (31/12) pagi ditemukan tiga jenazah (2 wanita, satu diantaranya mengenakan seragam oramugari dan 1 pria). Temuan ini tentunya memperkuat dugaan bahwa AZ8501 jatuh dan tenggelam ke dalam laut.

Dunia internasional memuji kemampuan tim SAR Indonesia yang mampu menemukan AirAsia QZ8501 dengan cepat, dan dianggap sebagai salah satu tim SAR terbaik di di Asia.

"Indonesia telah berpengalaman menghadapi bencana, sehingga mereka memiliki kemampuan sangat bagus dalam menginvestigasi berbagai insiden," ujar Greg Waldron, editor majalah penerbangan FlightGlobal.

Mark Martin dari konsultan penerbangan independen Martin Consulting menyebutkan, Indonesia sebenarnya memiliki kapal laut tanpa awak yang mampu melacak keberadaan benda di bawah laut.  Jika ada pesawat yang tenggelam di laut, saya yakin, Indonesia bisa dengan cepat melacaknya dan proses pencarian akan berhasil. CEO AirAsia Toni Fernandez juga mengapresiasi tim SAR yang dengan cepat mampu menemukan posisi jatuhnya pesawat. "Kami sangat berterimakasih kepada Basarnas yang dengan cepat menemukan korban. Saat ini fokus kami adalah evakuasi para korban. Presiden Jokowi, Selasa (30/12) meninjau langsung lokasi dan proses evakuasi AirAsia QZ8501 di perairan Pangkalan Bun. Dari sana, Jokowi langsung menuju crisis center Bandara Juanda, Surabaya.

Dalam konpresi pers, Jokowi menjelaskan, lokasi jatuhnya pesawat sudah ditemukan  dan tadi saya melihat ada tiga KRI yang berada di sana. Besok (Rabu) pagi, baik kapal maupun heli dari laut maupun udara akan melakukan pencarian besar-besaran.

"Saya sudah memerintahkan Basarnas untuk melanjutkan operasi gabungan, untuk mencari baik pesawat maupun penumpang dan awaknya. Saya perintahkan, fokus terlebih dahulu adalah evakuasi penumpang dan awak pesawat," katanya.

Dia juga mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada Basarnas, TNI, Polri, relawan dan masyarakat serta nelayan atas dukungan yang diberikan dalam rangka pencarian pesawat, penumpang dan awaknya. "Terima kasih saya ucapkan juga kepada Negara-negara sahabat yang telah ikut membantu pencarian, dari Singapura, Malaysia, dari Austarlia," katanya.

Kepada seluruh keluarga penumpang dan awak pesawat, presiden menyampaikan rasa turut kehilangan dan berdukacita atas musibah ini. "Kita semua berdoa agar seluruh keluarga diberikan ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi cobaan ini," katanya lagi. (Ant)

KOMENTAR DISQUS :

TABEL LIGA

Top