Jumat, 23 Agustus 2019 |
Opini Warga

PHP LIMAU SAROLANGUN MERINTIS BISNIS HHBK “MINYAK KEPAYANG”

Sabtu, 15 Oktober 2016 | 12:25:03 WIB wib Dibaca: 1831 Pengunjung

Oleh : Misriadi, SP.MSc (KKPH Limau Sarolangun)

Sampai saat ini paradigma peengelolaan Sumber Daya Hutan (SDH) masih berorientasi pada timber management berupa single product yaitu hasil hutan kayu (HHK). Namun seiring dengan meningkatnya tuntutan masyarakat akan hasil dari SDH, pengelolaannya haruslah optimal dengan memaksimalkan dan memanfaatkan seluruh potensi yang ada yaitu selain HHK juga Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) serta Jasa Lingkungan (Jasling) dengan tetap mengedepankan aspek kelestarian.

Perubahan paradigma tersebut dapat meningkatkan produktifitas hutan dengan memberikan keuntungan dan kesejahteraan kepada masyarakat di sekitarnya secara lestari sekaligus memperbaiki dan meningkatkan kualitas lingkungan. Salah satu upaya untuk mewujudkan harapan tersebut adalah dengan memanfaatkan hasil hutan bukan kayu yang dapat memberikan keuntungan baik itu secara ekonomi dan ekologi serta sosial budaya.

Berdasarkan hasil identifikasi, di wilayah kerja KPHP Limau Unit VII-Hulu Sarolangun memiliki potensi pengembangan “Minyak Kepayang” yang sangat prospektif. Hal ini ditinjau dari segi kawasan pengembangan, kelembagaan kelompok tani, dan potensi pemasaran. Saat ini KPHP Limau tengah mendorong pengelolaan Minyak Kepayang agar dapat dilakukan secara maksimal baik dari segi pemanfaatan maupun pengembangan produk dalam skala yang lebih besar.

Pohon Kepayang yang dalam bahasa latin disebut Pangium edule merupakan salah satu pohon yang cukup banyak tersebar di wilayah hutan Sumatera. Karakteristik pohonnya sangat mudah dan cepat tumbuh, memiliki kanopi besar, perakaran yang kuat, mampu mempertahankan air tanah, berumur panjang dan lain sebagainya menjadikan pohon Kepayang memiliki potensi yang sangat baik bagi konservasi tanah dan air, berbuah lebat pada musimnya sehingga sangat baik bagi pelestarian fauna dan memiliki potensi sejarah adat/budaya yang sangat erat dengan kearifan lokal masyarakat wilayah hulu Sarolangun. Pemanfaatan buah Kepayang menjadi minyak kepayang secara tradisional/turun-temurun oleh masyarakat daerah hulu Jambi, khususnya di Kabupaten Sarolangun biasanya digunakan sebagai minyak goreng dan obat tradisional.

Hal ini tentunya semakin menambah nilai manfaat pohon Kepayang sebagai salah satu Hasil Hutan Bukan Kayu (Non Timber Forest Product)yang memiliki nilai ekonomi dan nilai konservasi tinggi. Berdasarkan potensi tersebut maka KPHP Limau Unit VII-Hulu Sarolangun menginisisasi “rintisan bisnis” dan terus berupaya mendorong, menumbuhkembangkan serta mempromosikan Minyak Kepayang sebagai minyak masa depan karena dihasilkan dari hutan alam dan melalui proses pengolahan yang ramah lingkungan. Sebagai wadah badan usaha saat ini KPHP Limau membentuk Koperasi KPH dengan No. 102/BH/VI.I/III/2016.

Potensi Pohon Kepayang di KPHP Limau Unit VII-Hulu Sarolangun

Pohon Kepayang (Pangium edule) tersebar secara alami di kawasan KPHP Limau Unit VII-Hulu Sarolangun. Pohon Kepayang memiliki nilai konservasi dan nilai ekonomi yang tinggi, hal ini dikarenakan pohon Kepayang merupakan tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species) yang dapat meningkatkan nilai konservasi karena memiliki kaitan erat terhadap kelestarian hutan dan mempengaruhi peredaran satwa liar terutama habitat Harimau Sumatera karena adanya mata rantai yang mempengaruhi keberadaannya. Buah kepayang merupakan makanan kesukaan Babi Hutan, sementara Babi hutan adalah mangsa yang mudah didapatkan Harimau. Selain itu, secara ekonomi pohon kepayang dapat memberikan manfaat bagi peningkatan pendapatan masyarakat di sekitar hutan di wilayah KPHP Limau. Salah satu manfaat dari pohon Kepayang adalah masyarakat dapat memanfaatkan buahnya untuk diolah menjadi minyak goreng, minyak oles/urut, obat sakit gigi dan saat ini seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Minyak Kepayang dapat diolah menjadi berbagai produk turunan seperti untuk kosmetik/kecantikan (sabun kecantikan, body lotion, minyak rambut dll). Kandungan yang ada pada Minyak Kepayang sangat berguna bagi tubuh manusia diantaranya adalah tingginya kandungan omega 3, vitamin A, B dan C, protein, zat besi, betakaroten dll.

Selain dalam kawasan hutan, potensi sebaran pohon Kepayang di wilayah KPHP Limau juga terdapat di beberapa desa yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan. Dalam pengelolaannya KPHP Limau menjalin kemitraan dengan masyarakat di sekitar hutan yang terhimpun dalam Kelompok Tani Hutan “Kelompok Pengolah Kepayang (KPK)” sekaligus sebagai desa binaan KPH. Hal ini merupakan peluang dan kesempatan bagi KPH untuk mewujudkan konsep “Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera” dengan membangun dari pinggiran sebagai implementasi nawacita Presiden Jokowi dan lebih lanjut negara hadir melalui KPH sebagai lembaga yang berada ditingkat tapak. Kemitraan yang dibangun antara KPHP Limau dengan masyarakat sangat sederhana yakni masyarakat sebagai produsen minyak kepayang yang diproses berazaskan kelestarian dan KPHP Limau sebagai pembina sekaligus mambantu memasarkan produknya sesuai permintaan pasar.

Pengolahan Minyak Kepayang oleh masyarakat Hulu Sarolangun sebenarnya sudah dilakukan sejak zaman nenek moyang dahulu dan memiliki sejarah adat/budaya yang sangat erat kaitannya dengan kearifan lokal masyarakat setempat, hal ini tercermin adanya Seloko Adat Sarolangun (pesan adat) yang berbunyi “Nutuh Kepayang Nubo Tepian” yang artinya “dilarang menebang pohon kepayang dan meracuni ikan disungai”. Sebenarnya nenek moyang pendahulu telah mengetahui bahwa pohon kepayang merupakan tanaman yang memiliki nilai konservasi dan nilai ekonomi tinggi. Sebelum adanya minyak goreng dari sawit, dahulu masyarakat Sarolangun mengkonsumsi minyak goreng yang berasal dari buah kepayang yang diolah sendiri secara tradisional. Selain buah kepayang yang diolah menjadi minyak, masyarakat juga menggunakan daun kepayang sebagai bahan pengawet ikan alami (dapat mengawetkan ikan hingga berbulan-bulan dengan cara membungkus ikan tersebut dengan daun kepayang).

Pengembangan Minyak Kepayang

Pengembangan Minyak Kepayang  terus dilakukan oleh KPHP Limau dengan membangun jejaring dan bekerjasama dengan berbagai pihak diantaranya FFI dan BPHP Wilayah IV Jambi melalui berbagai intervensi kegiatan antara lain : peningkatan kapasitas Kelompok Pengolah Kepayang, sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi, pemberian bantuan alat pengepres modern dll. Hal tersebut dilakukan untuk membantu dan memudahkan masyarakat dalam pengolahan minyak kepayang agar semakin meningkat produksinya baik secara kwalitas maupun kwantitas yang dihasilkan. Selain itu, terobosan pemasaran terus dilakukan baik dalam skala lokal, nasional maupun pasar internasional. Saat ini untuk pasar lokal sudah semakin menunjukkan kearah yang positif diindikasikan dengan banyaknya permintaan toko-toko, apotek, toko oleh-oleh dan juga sudah tersedia dibeberapa galeri oleh-oleh Bandara Sultan Thaha Jambi(icon oleh-oleh karena Minyak Kepayang Indonesia hanya ada di Sarolangun-Jambi). Sedangkan untuk pasar internasional sudah ada pihak yang melirik dan bakal bekerjasama dengan KPHP Limau yaitu adanya ketertarikan dari Earth Oil dan konsultan Body Shop yang datang dan melihat secara langsung pengolahan Minyak Kepayang di KPHP Limau dan tertarik untuk menjadi buyer minyak kepayang dalam jumlah besar.

Akhirnya hal penting yang perlu mendapat perhatian dari para pihak untuk membesarkan rintisan bisnis Minyak Kepayang adalah bahwa keberhasilan proses pelembagaan strategi pencapaian tahapan dan eksekusinya akan sangat ditentukan oleh efektivitas manajemen organisasi KPHP,kepemimpinan, kultur kontributif, reward, disiplin monitoring dan evaluasi yang dijalankan. Semoga semaian mimpi KPHP Limau akan dapat terwujud, tumbuh dan berkembang…..KPH adalah masa depan kehutanan Indonesia. (***)

LAINNYA

KOMENTAR DISQUS :

TABEL LIGA

Top