Kamis, 18 Juli 2019 |
FokusJambi - Opini Warga

PERCERAIAN MARAK, BUKTI RAPUNYA KETAHANAN KELUARGA

Jumat, 10 Agustus 2018 | 11:08:18 WIB wib Dibaca: 574 Pengunjung
gambar ilustrasi perceraian

Oleh : Farah Sari, A.Md

Berbicara tentang keluarga maka kita akan terbayang  ayah, ibu dan anak. Di dalamnya mereka hidup bersama, saling mencintai dan melindungi. Kita tentu mendambakan kehidupan yang bahagia dan harmonis. Bahkan lebih dari itu. Sebagai muslim tentu keluarga dambaan adalah keluargayang  sakinah, mawadah dan warahma. Berharap tidak hanya bahagia berkumpul di dunia saja tapi juga hingga ke surga. Sungguh indahnya. Tapi sayang, fakta yang terjadi pada keluarga muslim hari ini seperti jauh panggang dari api. Berharap bahagia tapi malah rapuh dari dalamnya. Kerapuhan ini terlihat dari perceraian yang terus saja terjadi. 

Fakta ini diperkuat oleh data bahwa angka perceraian di Provinsi Jambi masih cukup tinggi. Dalam 3 tahun terakhir (2016 hingga maret 2018) tercatat 9.372 perkara perceraian di Pengadilan Agama di seluruh Kabupaten/Kota se Provinsi Jambi. Menurut Panitera pengadilan agama kelas 1 A Jambi, Rusdi mengatakan, pengajuaan cerai banyak dilakukan oleh istri (cerai gugat). Penyebabnya beragam seperti masalah ekonomi, perselisihan, ditinggal bekerja, perselingkuhan dll (JawaPos.com 03/05/2018)

Angka di atas berasal dari perceraian yang terdata. Bagaimana dengan yang tidak terdata? Tentu angkanya lebih tinggi lagi. Disini kita perlu mengurai masalah perceraian ini. Agar kita mendapati apa akar masalah sehingga kasus perceraian ini terus terjadi dan cendrung meningkat? Dari analisa akar masalah kita dapat merumuskan solusi tuntas agar masalah ini bisa dicegah dan diharapkan tidak terjadi lagi. Ya, mencegah lebih baik dari mengobati bukan?

Melihat dari pernyataan Panitera pengadilan agama kelas 1 A Jambi, Rusdi mengatakan, pengajuaan cerai banyak dilakukan oleh istri (cerai gugat). Penyebabnya beragam seperti masalah ekonomi, perselisihan, ditinggal bekerja, perselingkuhan dll. Maka kita perlu menganalisa kenapa wanita (istri) lebih banyak yang melakukan gugat cerai? Jika dikaitkan dengan penyebabnya, maka kita menemukan kondisi keluarga muslim hari ini sesungguh dalam kerapuhan.

Rapuh dari ketahanan ekonomi (pendapatan kurang kebutuhan banyak, gaji yang tidak lancer),  rapuh dari ketahanan membentengi diri (tempat bekerja jauh sehingga hidup terpisah, penguasaan ilmu RT, penjagaan diri dari godaan luar/selingkuh). Semua kerapuhan ini disebabkan oleh beberapa factor diantaranya, pertama : tidak cukupnya bekal ilmu/pemahaman islam pada seseorang dalam berkeluarga. Kedua : kondisi masyarakat yang serba cuek dengan lingkungan. Ketiga : aturan kehidupan yang diterapkan negara hari ini belum memfasilitasi terbentuknya keluarga dan masyarakat yang ideal (punya ilmu/pemahaman islam yang cukup)

Poin pertama, seseorang tidak memiliki bekal ilmu/pemahaman islam yang cukup dalam menjalani kehidupan berkeluarga sehingga semua berjalan ala kadarnya sesuai hawa nafsu sehingga timbul kekacauan dalam keluarganya. Seharusnya bekal ini dipersiapkan sejak dini menjelang terjun dalam kehidupan berkeluarga. Hal ini belum kita dapatkan secara utuh, baik dari orang tua dan pendidikan di sekolah. Karena orang tua kita juga tidak  mendapatkan secara utuh dari nenek kita dst. Sedangkan sekolah terikat oleh kurikulum, yang memang didalamnya belum terdapat bahan ajar khusus untuk bekal berkeluarga. Padahal ini sangat penting. Sederhananya, kebodohan dalam ilmu bekeluarga hari ini terjadi secara sistematis

Poin kedua: kondisi masyarakat yang serba cuek dengan lingkungan. Sikap yang tidak peduli terhadap kesusahan yang dialami oleh saudara/tetangga juga semakin memperparah kerapuhan keluarga muslim. Saat satu keluarga terjadi kesulitan ekonomi, sudah seharusnya tetangga yang mampu dari sisi harta untuk membantu. Bantuan itu bisa dalam bentuk apa saja, memfasilitasi dengan  menawarkan pekerjaan, memberi pinjaman modal usaha tanpa riba dll. Tapi sayang hari ini masyarakat cendrung berdiam diri merasa bukan tanggung jawabnya. Maka sebagai masyarakat juga harus cerdas, punya ilmu/pemahaman islam yang cukup sehingga peran kita menjadi optimal dalam menjaga ketahan keluarga muslim

Poin ketiga yang paling berpengaruh dan menentukan adalah: aturan kehidupan yang diterapkan negara. Faktanya aturan kita hari ini belum memfasilitasi terbentuknya keluarga dan masyarakat yang ideal (punya ilmu/pemahaman islam yang cukup). Kita hidup dalan aturan yang cendrung menjauhkan agama dari kehidupan. Apa buktinya? Dari sisi pengaturan kurikulum pendidikan sebenarnya punya potensi besar mewujudkan ini semua. Dimana kurikulumnya dibuat untuk membentuk kepribadiaan islam. Sehingga lahirlah individu yang punya keimanan yang kuat kepada allah SWT, selalu terikat dengan syariat. Dalam bekeluarga dia akan menjadi ayah/ibu/anak seperti yang Allah inginkan. Jika standar setiap anggota keluarga sudah sama (islam) maka perselisihan tentu bisa diminimalkan.

Saking besarnya pengaruh dari kebijakan aturan negara, permasalah ekonomi juga bisa diselaikan. Cara negara menyelesaikannya adalah dengan memfasilitasi setiap kepala keluarga agar bisa bekerja. Memperhatikan upah yang layak sehingga permasalahan ekonomi tidak lagi jadi alasan wanita gugat cerai suaminya. Sejalan dengan diterapkan syariat islam, kasus perselingkuhan juga bisa dihindarkan karena anggota keluarga adalah individu yang taat pada Allah. Takut bermaksiat karena kelak akan dihisab.

Setiap keluarga muslim berkewajiban memperkuat ketahanan keluarganya. Muslim melakukan upaya ini karena dorongan keimanan dan kelak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman ! peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan“ (at-Tahrim : 6).

Sehingga keluarga muslim yang taat kepada Allah akan diberikan jalan untuk mendapatkan rezeki dari Allah SWT

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya (QS At Thalaq : 2-3).

Selain itu Allah juga telah menjanjikan kehidupan berkah dan sejahtera bagi penduduk negri  "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. " (QS Al A'raaf:96)

Jadi solusi maraknya perceraian dan rapuhnya ketahanan kelurga muslim hari ini adalah dengan menjadikan syariat islam sebagai benteng pertahanan dalam mengarungi kehidupan. Syariat ini harus dipahami dan ditrerapkan pada ketiga elemen penyusun sebuah tatanan kehidupan yaitu level individu, level masyarakat dan level negara. InsyaAllah keluarga muslim yang tangguh dan bahagia dunia akhirat akan mudah diwujudkan. Amin

*Member komunitas Muslimah Jambi Menulis dan Aktivis Komunitas Muslimah Jambi Peduli Generasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KOMENTAR DISQUS :

TABEL LIGA

Top