Kamis, 22 Agustus 2019 |
FokusJambi - Hukum & Kriminal - Daerah

Mengaku Tidak Terlibat, Unyil Teteskan Air Mata di Depan Hakim

Jumat, 20 Maret 2015 | 10:01:22 WIB wib Dibaca: 883 Pengunjung

Laporan Fokusjambi.com

FOKUSJAMBI.COM,SAROLANGUN - Sidang lanjutan kasus penganiayaan yang menewaskan anggota Brimob Detasemen B Marto Fernando Hutagalung saat terjadi bentrok berdarah di Dusun Mengkadai, Desa Temenggung Kecamatan Limun pada Kamis (19/3) kamis kembali bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Sarolangun dengan agenda pembacaan pembelaan (pledoy) oleh kuasa hukum ke dua terdakwa Amiruddin dan Utih Haryanto alias Unyil.

Budi Asmara SH Kuasa Hukum Amiruddin, dalam pembelaannya mengatakan, bahwa berdasarkan fakta-fakta persidangan yang mengacu pada keterangan saksi-saksi, apa yang dituduhkan pada kliennya tidak benar adanya. Menurutnya, saat terjadinya penertiban Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Dusun Mengkadai Desa Temenggung tahun 2013 silam yang berakibat terjadinya penganiayaan yang menewaskan anggota Brimob Polda Jambi Briptu Marto Hutagalung, terdakwa Amiruddin memang berada di tempat kejadian perkara (TKP), Tapi pada saat itu dihalau oleh saksi-saksi dan menyuruh terdakwa pulang dan terdakwapun pulang.

“Pada saat kejadian itu ada ada pak khaidir yang menghalangnya, sempat terjadi omongan klien saya terhadap bapak itu, namun bapak tersebut terus menyuruh klien saya pulang maka dia pulang,”Ungkap Budi Asmara

Selain itu menurut Budi Asmara, ada perbedaan keterangan antar saksi, Yakni, bahwa saksi Joni Aprizal, menerangkan, pada waktu saksi menyelamatkan korban, saksi ada melihat Amir yang menginjak korban, jarak saksi melihat Amir menginjak korban sekitar 2 meter, akan tetapi keterangan saksi Joni Aprizal ini bertentangan dengan saksi Wahyudi Ar, saksi Nofriyanto, saksi Haidir Zulkiflki dan saksi Utih Haryanto, yang mengatakan bahwa saat terjadinya pengoroyokan terhadap Briptu Marto, Amiruddin tidak melakukan perbuatan apapun terhadap korban Marto, karena terdakwa Amiruddin disuruh pulang oleh saksi Khaidir. Sehingga terhadap keterangan saksi Joni Aprizal tidak dapat membuktikan bahwa terdakwa Amiruddin ikut melakukan pengroyokan terhadap korban Briptu Marto Hutagalung.

Dari uraian –uraian fakta-fakta yang terungkap di persidangan, menurut Budi Asmara didapatkan fakta bahwa benar terjadi pengeroyokan terhadap korban, akan tetapi pelaku pengeroyokan tersebut bukan Amiruddin. Hal ini karena pada saat terjadinya peristiwa tersebut terdakwa Amiruddin benar berada di TKP, tapi disuruh pulang oleh saksi Haidir Zulkipli.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, Budi Asmara selaku kuasa hukum Amiruddin menyampaikan kepada majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara berkenaan untuk memutuskan adengan amar putusan sebagai berikut, menyatakan terdkwa Amiruddin bin Sari tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 170 ayat 2 ke 3 KUHP dan membebaskan terdakwa Amiruddin dari segala dakwaan serta memulihkan hak- hak terdakwa dalam kemampuan kedudukan dan harkat martabatnya.

Sementara itu Kuasa Hukum Utih Hariyanto alias Unyil, Ali Musa Siregar SH, dalam nota pembelaanya menyatakan, tidak satupun saksi yang menyatakan keterlibatan Unyil dalam penganiayaan terhadap korban, bahkan ada saksi yang menyatakan bahwa Unyil tidak berada di lokasi saat kejadian berlangsung.

Selain itu menurut Ali Musa Siregar, tuntutan 4 tahun penjara kepada terdkwa Unyil, bukan berdasarkan fakta persidangan. Sebab Unyil tidak melakukan pelemparan batu karena tidak ada di lokasi dan tidak ada melakukan seperti apa yang dituduhkan kepada terdakwa.

Yang menarik, Unyil sempat menyampaikan pembelaan secara lisan di depan majelis, dengan terbata sambil menitikkan air mata memohon kepada majelis hakim mengadili seadil-adilnya sebab yang dituduhkan kepadanya tidak benar.

“Semua yang dituduhkan kepada saya tidak benar, saya memang benar-benar tidak terlibat. Anak saya tiga masih kecil-kecil kasihan mereka, Ayah saya sudah meninggal sedangkan ibu sakit-sakitan. Tolong adili saya seadil-adilnya, “kata Unyil sambil menangis,

Bahkan saking terharunya terhadap ucapan Unyil, sebagian pengunjung sidang tak kuasa menahan air mata.

Sidang lanjutan kemarin, dipimpin Ketua Majelis, Herlangga Patmadja, SH dan dua hakim anggota masing-masing Andreas Arman Sitepu, SH dan Adil M. F. Simarmata, SH. Sidang selanjutnya bakal digelar 26 Maret dengan agenda tanggapan JPU terhadap nota pembelaan kuasa hukum terdakwa.

Seperti diberitakan sebelumnya, terdakwa Amiruddin dan Utih Haryanto alias Unyil diberikan tuntutan yang berbeda oleh JPU. Amirudiin dituntutn 6 tahun penjara sementara Unyil hanya 4 tahun penjara. (Man)

KOMENTAR DISQUS :

TABEL LIGA

Top