Selasa, 24 September 2019 |
FokusJambi - Teknologi & Inet

MENANTI BANDARA SULTAN THAHA JAMBI BERSTATUS INTERNASIONAL

Jumat, 14 Oktober 2016 | 14:20:18 WIB wib Dibaca: 802 Pengunjung

 

FOKUSJAMBI.COM, JAMBI - Pemerintah Provinsi Jambi tengah mengupayakan agar Bandar Udara Sultan Thaha Syaifuddin berstatus internasional atau ada frekuensi penerbangan internasional, mengingat banyak penduduk daerah ini berpergian ke luar negeri.

Penantian itu bukan tanpa alasan, sebab transportasi udara sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan kemajuan perekonomian daerah.

Gubernur Zumi Zola saat pertemuan bersama perwakilan dari beberapa maskapai penerbangan di Jambi, Selasa (11/10), sangat berharap semua pihak mendukung Bandara Sultan Thaha bertaraf internsional.

"Kita upayakan penerbangan internasonal dari Bandara Sultan Thaha, tahap awal ke Singapura dan Malaysia, karena banyak penduduk kita yang bepergian ke dua negara itu yang selama ini melalui Bandara Batam atau Bandara Soekarno Hatta," kata Zumi Zola.

Sebab itu dirinya berharap agar penerbangan dari dan ke Jambi semakin meningkat, baik dari sisi penambahan rute maupun dari sisi penambahan frekuensi penerbangan dari yang tersedia saat ini.

Zola menjelaskan, Pemprov Jambi bersama Kementerian Perhubungan telah merencanakan pengembangan bandara Jambi menjadi bertaraf internasional yang didukung melalui surat keputusan Menteri Perhubungan RI Nomor KP. 621 tahun 2012 tentang rencana induk bandara.

Selain itu melalui SK Menhub tersebut juga ditetapkan Bandara Sultan Thaha Jambi menjadi Embarkasi Haji Antara (EHA).

"Bandara Jambi sudah mempunyai terminal baru yang diresmikan oleh Presiden RI Bapak Joko Widodo beberapa waktu lalu. Untuk peningkatan pelayanan bandara saya sangat mendorong percepatan pemasangan Instrument Landing Sistem (ILS) sebagai antisipasi dampak kabut asap yang dapat menghambat aktivitas penerbangan," katanya menjelaskan.

Selain itu, Pemprov Jambi juga mendorong percepatan penyelesaian perpanjangan runway dari 2.220 meter menjadi 2.600 meter.

"ILS Oktober kita targetkan terpasang dan runway perlu kita perpanjang menjadi 2.600 meter," katanya.

Zola mengungkapkan, tahun 2010 mobilitas orang di Bandara Sultan Thaha baru mencapai 936.286 orang, namun pada 2015 sudah meningkat menjadi 1.167.755 orang atau meningkat sebesar 24,72 persen atau secara rata-rata meningkat 4,92 persen.

Sedangkan untuk kegiatan bongkar muat barang (kargo) juga meningkat secara signifikan selama kurun waktu tahun 2010-2015.

Di mana pada 2010 kegiatan bongkar muat barang tercatat 5.244 ton, tahun 2015 menjadi 6.087 ton atau meningkat sebesar 16,08 persen. Secara rata-rata meningkat sebesar 4,04 persen setiap tahunnya.

Seiring dengan meningkatnya aktivitas di Bandara Sultan Thaha, juga berimplikasi terhadap kedatangan dan keberangkatan pesawat di bandara tersebut.

Di mana pada tahun 2010 jumlah kedatangan dan keberangkatan pesawat baru tercatat 7.921 pesawat, namun tahun 2015 meningkat menjadi 10.116 pesawat, atau terjadi peningkatan sebesar 27,71 persen. Secara rata-rata selama kurun waktu tahun 2010-2015 meningkat sebesar 5,557 persen.

GM Angkasa Pura II Jambi Achmad Syahir, mengatakan saat ini pihaknya masih terus mengkaji untuk menjadikan Bandara Jambi sebagai Bandara Internasional.

Namun jika untuk penambahan rute, saat ini rute Sultan Thaha-Surabaya dan Kualanamu-Sultan Thaha sangat potensial.

Dijelaskannya, saat ini secara fasilitas dan regulasi, Bandara Sultan Thaha belum memenuhi untuk menjadi Bandara Internasional. Salah satunya belum adanya area khusus ruang tunggu internasional, dan area untuk perangkat imigrasi dan Bea Cukai. Namun untuk runway tidak masalah.

"Kami rencananya 2017 ada pengembangan terminal. Kalau terminalnya sekarang hanya 12.000 m2 dan akan ada tambahan 10.000 m2 lagi. Dengan pengembangan terminal tersebut memungkinkan akan dibuka untuk penerbangan internasional," katanya.

Setelah dibangun tambahan terminal baru nanti, tinggal pihak maskapai menyampaikan pangsa pasarnya dan membuka rute serta proses lainnya. Angkasa Pura mengurus segala perizinan dan regulasinya.

Terkait lonjakan penumpang, Achmad mengatakan Jambi sangat bagus. Tahun 2016 ini saja hingga Agustus sudah tercatat 1,2 juta penumpang dengan asumsi pada akhir tahun ini mencapai 1,6 juta penumpang.

"Kalau untuk lonjakan penumpang, Jambi perkembangannya memang sangat bagus," katanya menambahkan.

Perwakilan Airnav Indonesia Jambi Anton, mengatakan Instrument Landing System (ILS) untuk Bandara Sultan Thaha tersebut pada akhir November 2016 sudah siap digunakan. Sehingga jika jarak pandang pendek, tetap tidak menjadi kendala pesawat untuk mendarat.

Pengembangan dua Bandara Perintis Selain berupaya menjadikan Bandara Sultan Thaha bertaraf internasional, Gubernur Zumi Zola juga minta frekuensi penerbangan dua bandara di wilayahnya yakni di Kabupaten Bungo dan Kerinci, sebagai bandara perintis ditambah dari empat kali menjadi tujuh kali penerbangan dalam satu minggu.

"Untuk penambahan frekuensi penerbangan Bandara Bungo-Jakarta didasarkan laporan bupati Bungo tentang potensi penumpang dari Bungo ke Jakarta dan sebaliknya. Sedangkan untuk penambahan frekuensi dari Jambi-Kerinci dan sebaliknya didasarkan pada potensi Kerinci setelah ditetapkan sebagai branding pariwisata Provinsi Jambi," kata Zola.

Dalam pertemuan bersama perwakilan dari beberapa maskapai penerbangan itu, Zola juga sangat berharap adanya penambahan frekuensi penerbangan dari bandara Bungo ke bandara Soekarno Hatta, yang saat ini terbang empat kali seminggu menjadi tujuh kali seminggu atau tiap hari.

Selain itu, Zola juga mengharapkan adanya penambahan frekuensi penerbangan dari Bandara Depati Parbo Kerinci ke Bandara Sultan Thaha dan sebaliknya, yang saat ini empat kali dalam seminggu juga menjadi tujuh kali atau setiap hari.

Wakil Bupati Bungo Apri mengatakan respon masyarakat sangat positif sekali untuk dilakukan penambahan penerbangan Muara Bungo -Jakarta yang saat ini hanya empat kali dalam seminggu melalui maskapai Sriwijaya.

Disebutkannya, pertumbuhan penumpang pada bulan Juli 2016, rata-rata jumlah penumpang datang adalah 102 orang atau 85 persen dari jumlah seat. Dan rata-rata jumlah penumpang berangkat sebanyak 111 orang atau 92,50 persen dari jumlah seat maksimum.

Pada bulan Agustus 2016, rata-rata jumlah penumpang datang adalah 102 orang atau 87,50 persen dari jumlah seat maksimum, dan rata-rata jumlah penumpang berangkat adalah 104 orang atau 86,67 persen dari jumlah maksimum seat.

Bupati Kerinci Adirozal mengatakan berdasarkan masterplan pembangunan pemekaran Bandara Kerinci, setidaknya dibutuhkan 28 hektare lahan, namun saat ini hanya dipersiapkan 10 hektare.

"Saat ini ada penerbangan Susi Air empat kali dalam seminggu Kerinci -Jambi. Namun jika ada penambahan rute Kerinci-Padang dan Kerinci-Dumai itu akan sangat baik," katanya.

Mengingat terdapat 45 ribu warga Kerinci di Malaysia yang biasanya pulang ke Kerinci via Dumai. Dan masyarakat meminta adanya penambahan penerbangan di pagi hari ke Jambi.

Pemkab Kerinci, katanya, juga siap melakukan upaya pembebasan lahan jika Kementerian Perhubungan berkomitmen dalam pengembangan bandara tersebut.

"Jajaran kami siap dalam pembebasan lahan untuk pengembangan bandara, jika memang itu diminta kita akan duduk bersama. Artinya dalam pembebasan lahan itu nantinya jangan sampai ada yang dirugikan," kata bupati.

Bandara Depati Parbo saat ini kata bupati menjelaskan, baru ada satu maskapai penerbangan yakni SusiAir yang membuka rute penerbangan Jambi-Kerinci dan sebaliknya dalam satu pekan hanya ada empat jadwal penerbangan.

Karena daerah itu mempunyai potensi pariwisata dan ditambah lagi dengan kondisi yang hanya ada satu maskapai, itu tentu membuat penumpang yang akan menggunakan moda transportasi udara belum terlayani dengan baik.

"Sebelumnya memang ada maskapai Lion Group yang akan membuka rute penerbangan, namun saat ini belum terealisasi karena masih ada kajian yang belum selesai," katanya.

"Saat ini misalnya ada penumpang yang mau menggunakan jalur udara harus memesan jauh-jauh hari, karena itu kami berharap ada maskapai lagi yang mau membuka rute penerbangan ke Kerinci," katanya menambahkan.

Namun untuk memenuhi permintaan tersebut, sejumlah maskapai masih ragu karena kedua bandara tersebut masih sangat minim fasilitas dan faktor pendukung yang harus dimiliki bandara.

Perwakilan dari maskapai Sriwijaya Air, Dedi mengatakan, pihaknya sudah berpartisipasi yaitu Jakarta-Bungo dalam satu minggu sebanyak empat kali. Namun pihaknya masih mengeluhkan terkait sistem navigasi bandara yang masih terkendala.

"Sistem navigasi Bandara Bungo masih dibantu Jambi. Dan bandara Kerinci, runwaynya hanya 1.800, itu masih sangat limited sekali, dan jet tidak akan bisa landing di sana. Belum lagi butuh tambahan penyediaan Damkar," katanya.

Selain itu, ia juga meminta adanya penambahan perluasan parkir pesawat di Bandara Kerinci, sebab jika ada pesawat yang akan menginap satu pesawat tidak bisa mendarat.

Perwakilan maskapai Garuda Indonesia menyatakan hanya Garuda dan Sriwijaya yang memiliki maskapai yang bisa mendarat di landasan kecil dengan keterbasan seperti Bandara Bungo dan Kerinci.

"Tapi jika adanya penambahan frekuensi penerbangan untuk Kerinci-Jambi pada pagi hari, saya rasa akan sulit karena di pukul 8-9 pagi Kerinci itu berkabut, dan bahaya bagi penerbangan," katanya.

Sementara itu, Perwakilan AirNav Indonesia di Jambi Anton, mengatakan untuk bandara Bungo, sudah ada pelayanan navigasi, hanya saja baru sebatas mata memandang. Karena menurutnya masih memerlukan bantuan menara bandara Jambi.

Pengembangan dua bandara perintis di Jambi ini diharapkan terealisasi dalam rangka meningkatkan perekonomian Jambi. Apalagi Kerinci sudah ditetapkan sebagai branding pariwisata Jambi.

Begitu juga Bandara Sultan Thaha, dimana jika bertaraf internasional tentu banyak wisatawan asing yang tertarik mengunjungi provinsi dengan beragam destinasi wisata ini. (Ant)

KOMENTAR DISQUS :

TABEL LIGA

Top