Sabtu, 24 Agustus 2019 |
FokusJambi - Opini Warga

KEMBALINYA KAUM NABI LUTH, REALITA MASA KINI

Selasa, 24 Oktober 2017 | 14:45:45 WIB wib Dibaca: 1414 Pengunjung

Oleh : Tri Wahyuningsih

Kasus LGBT kembali menyeruak di tengah-tengah masyarakat, khususnya di kota besar seperti Ibukota. Pada malam (21/06/2017), pihak kepolisian berhasil menangkap para pelaku gay yang sedang pesta "gay" di tempat kebugaran wilayah Kelapa Gading, Jakarta Utara. Pada penggerebekan ini polisi berhasil mengamankan 141 orang laki-laki dan 10 orang diantaranya telah ditetapkan sebagai tersangka.

Kasus yang serupa pun terulang kembali di tempat SPA kawasan Harmoni, Jakarta Pusat. Pihak keamanan berhasil menangkap 51 orang laki-laki yang sedang pesta "gay". Dilansir dari halaman tribunnews.com, Polres Metro Jakarta Pusat membongkar tempat prostitusi pria pecinta sesama jenis atau gay yang dilakukan di T1 Sauna, Ruko Plaza Harmoni, Jalan Suryo Pranoto, Gambir, Jakarta Pusat (06/10/2017). Saat diciduk, polisi menemukan fakta bahwa mereka tengah  melangsungkan  pesta seks sesama jenis. Miris. Kasus yang sama terus terulang, pihak keamanan terkait belum  jua tuntas menyelesaikan kasus LGBT, prostitusi dan pergaulan lainnya.

Arti LGBT

Gay bukanlah ikhwal baru. Sejarah mencatat, kaum ini telah ada sejak zaman Nabi Luth bahkan ketika masa kekaisaran Romawi, pelaku gay berkembang dengan cepat. Namun, komunitas gay ini mulai menggunakan frasa LGBT sejak tahun 1980-an pertama kalinya di Amerika Serikat. LGBT sendiri ialah akronim dari "Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender". Istilah ini sangat banyak digunakan untuk penunjukkan diri serta diterapkan juga oleh mayoritas komunitas dan media berbasis gender di Amerika Serikat. Seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknologi yang semakin canggih, penyebaran "virus" LGBT menjadi lebih mudah, cepat dan mampu menjangkau tiap pelosok dunia termasuk negeri-negeri kaum muslimin. Indonesia salah satunya.

Di Indonesia, perkembangan LGBT telah dimulai sejak tahun 1990-an.  Para laki-laki tulen dan perempuan tulen penyuka sesama jenis ini, setiap saat senantiasa menyebarkan paham dan virus mereka dalam setiap pelosok negeri. Kasus yang terjadi di tempat SPA, Harmoni bukanlah hal yang terakhir. Lemahnya hukum untuk pelaku serta pengawasan yang terkesan abai, membuat pelaku LGBT ini bebas berekspresi, menyebar dan tak terjaring razia dari pihak keamanan. Ironi.

Sebab Maraknya LGBT dan Solusi Hakikinya

Praktik LGBT, prostitusi dan pergaulan bebas lainnya bukanlah hal baru lagi di negeri ini. Kerusakan moral yang terjadi di tengah-tengah masyarakat adalah akibat jauhnya nilai-nilai moral dan agama sehingga tak ada lagi ketakutan akan azab Allah. Dan hal ini menjadi persoalan akut, mengancam generasi muda. Inilah akibat dari penerapan sistem sekuler yang dijalankan penguasa negeri ini, dimana  sistem ini sangat menjunjung tinggi nilai kebebasan bernamakan HAM. Para pelaku LGBT dengan percaya diri dan berlaku sedemikian bebasnya menyebarkan paham mereka ke tengah-tengah masyarakat khususnya kalangan muda. Paham ini amat sangat rusak karena menjadikan hawa nafsu dan dekadensi kesenangan dunia sebagai kendali bagi manusia.

Dalam Islam, perilaku menyimpang seperti Liwath (gay) dan Sihaq (Lesbian) atau istilah populernya LGBT  dianggap hina lagi menjijikan. Neraka jahannam satu-satunya tempat kembali mereka. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman : "Dan (kami yang telah mengutus Nabi) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) takkala dia berkata kepada mereka: " Mengapa kalian mengerjakan perbuatan yang sangat hina itu, yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian?" (Al-A'raaf: 80) . Islam tidak akan membiarkan pelaku penyimpangan ini bebas apalagi sampai menyebarkan paham yang mereka emban ke tengah-tengah umat. Mereka akan ditindak tegas, hukuman untuk mereka adalah dibunuh atau dibakar. Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Nabi Luth, maka bunuhlah pelaku dan pasangannya." (HR Tirmidzi dan yang lainnya, dishahihkan Syaikh Al-Albani).

Oleh karena itu, jangan sampai kisah tragis yang menimpa kaum nabi Luth kembali terulang pada umat nabi Muhammad. Sungguh azab Allah amat pedih. Kini saatnya kita mencampakkan ide-ide pemikiran rusak yang senantiasa mengabaikan aturan Allah dan memilih menggunakan aturan buatan manusia untuk mengatur kehidupan. Dan menggantinya dengan penerapan syariat Allah yang sempurna dan menyeluruh dalam sebuah Institusi Negara. Karena sejarah pun telah membuktikan hanya dengan penerapan syariat Islam, umat akan bebas dari penyakit  LGBT maupun penyakit "masyarakat" karena pergaulan bebas lainnya. Syariat Islam mampu membawa umat hidup mulia dan sejahtera. Wallahu'alam bis shawab..

KOMENTAR DISQUS :

TABEL LIGA

Top