Senin, 22 Juli 2019 |
FokusJambi - Olahraga - Kesehatan & Gaya Hidup

Kapan Waktu Olahraga Terbaik Saat Puasa: Usai Sahur atau Jelang Berbuka?

Kamis, 18 Juni 2015 | 13:56:35 WIB wib Dibaca: 624 Pengunjung

Laporan Fokusjambi.com

FOKUSJAMBI.COM, JAKARTA - Puasa kerap dijadikan alasan bagi seseorang untuk tak olahraga seperti biasanya. Padahal saat puasa tetap bisa fit dengan berolahraga lho. Bagaimana caranya?

dr Michael Triangto, SpKO dari RS Mitra Kemayoran menyebutkan bahwa olahraga saat berpuasa tetap bisa dilakukan. Namun untuk permulaannya, Anda perlu menetapkan terlebih dahulu apa tujuan dari melakukan olahraga tersebut.

"Kalau tujuannya untuk kesehatan dan penyegaran, tentunya jangan dilakukan di sore hari. Karena efek segarnya bisa dirasakan hingga malam hari. Kalau mau segar, lakukan olahraga ketika sehabis sahur atau setelah salat subuh. Tentunya olahraganya yang ringan saja," tutur dr Michael kepada detikHealth, seperti ditulis pada Rabu (17/6/2015).

Sedangkan untuk tujuan kedua, yakni untuk melatih otot-otot atau sekadar mengeluarkan keringat, maka bisa melakukan latihan otot menggunakan barbel ketika selesai salat Tarawih.

dr Michael menuturkan faktanya otot bisa kendur jika tidak dilatih dengan baik, maka dari itu latihan beban dan kardio bisa dilakukan di malam hari maksimal 1 jam atau boleh juga dilakukan ketika menunggu azan magrib. Yang pasti, sebelum memutuskan untuk berolahraga saat puasa maka Anda perlu mengetahui kondisi tubuh dan kesehatan, jangan terlalu memaksakan diri.

"Jika ada gangguan kesehatan ya sebaiknya tidak melakukan olahraga yang terlalu berat ketika berpuasa. Olahraga memang baik untuk kesehatan namun jika olahraga dilakukan terlalu sering ketika berpuasa takutnya malah membuat dehidrasi," imbuhnya.

Ia menambahkan bahwa jenis olahraga yang menghasilkan banyak keringat tidak cocok dilakukan di bulan puasa, sebab dikhawatirkan justru bisa menimbulkan gangguan kesehatan. Sebagai alternatif, jalan cepat bisa menjadi pilihan yang baik untuk dilakukan selama berpuasa.

Alasannya, jalan cepat mampu dilakukan oleh siapapun, namun tentunya yang sehat. Selain itu, jalan cepat juga tidak membutuhkan modal alat apapun untuk melakukannya. Dengan demikian kita tidak perlu mencari alasan penghambat untuk menjadi sehat.

"Jalan cepat harus dibarengi dengan penggunaan alat pendeteksi denyut jantung agar Anda bisa mengetahui apakah Anda sudah di luar kapasitas Anda atau bahkan denyut jantung terlalu santai sehingga hanya menghabiskan waktu saja. Untuk batasannya, ketahui kondisi kesehatan dengan periksa ke dokter dulu," pesan dr Michael. (dtk)

KOMENTAR DISQUS :

TABEL LIGA

Top