Jumat, 23 Agustus 2019 |
FokusJambi - Sosial & Budaya

Diburu Belanda, Keturunan Diponegoro Bertahan Hidup dengan Sandi Rahasia

Senin, 09 Februari 2015 | 13:43:35 WIB wib Dibaca: 6770 Pengunjung
(dok: google)

Laporan Fokusjambi.com

FOKUSJAMBI.COM, JAKARTA - Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap, keturunannya sempat mengalami masa-masa sulit. Mereka diburu oleh Belanda karena dianggap bagian dari pemberontak. Untuk saling mengenali, disepakatilah sebuah sandi rahasia yang dipakai hingga berbagai generasi. Apa itu?

Ki Roni Sodewo sebagai keturunan ketujuh dari pangeran Diponegoro bercerita, ada keluarga yang hidup berpindah-pindah karena jadi incaran tentara Belanda, ada yang berjuang meneruskan perlawanan Diponegoro, sebagian lain kembali ke keraton.

"Mereka semua melepas status ningrat dan berbaur dengan masyarakat," kata Roni saat berbincang dengan detikcom di dekat area pemakaman pangeran Djunet, salah satu anak Pangeran Diponegoro di Ciapus, Bogor, Jabar, Jumat (7/2/2015). Selain Roni, hadir juga keturunan Diponegoro lainnya yakni, Abdul Wafa, Damon Yusuf Martadiredja dan Pancawati Dewi.

Dari tahun ke tahun, keturunan Diponegoro hidup dengan sandi rahasia. Mereka berusaha untuk tetap berkomunikasi, meski terpisah oleh jarak yang cukup jauh. Untuk saling mengenali, sebuah ciri-ciri dipasang di depan rumah mereka. Sandi ini berlangsung sampai generasi keempat, atau selama Belanda berkuasa.

"Kata sesepuh, kalau rumah keluarga keturunan Diponegoro ada ciri khas. Di depan rumahnya pasti ada pohon kemuning dua dan pohon sawo," ceritanya.

"Ada juga sandi lainnya yakni berupa sumur yang dibangun di sebelah kanan rumah. Padahal orang Jawa pada umumnya di sebelah kiri. Itu salah satu cara untuk melacak trah Sodewo," tambahnya.

Kehidupan baru terasa lebih baik bagi keturunan Diponegoro setelah era kemerdekaan. Mereka kembali muncul dengan nama belakang 'Diponegoro' atau keturunannya. Presiden Soekarno, menurut Roni, bahkan pernah mengumpulkan para keturunan Diponegoro pada tahun 1950. Hubungan dengan keluarga keraton yang sempat buruk akhirnya direhabilitasi. Keturunan Diponegoro pun kembali diakui keraton. Para keturunan pun diminat membuat silsilah resmi oleh Soekarno.

"Dulu pada 8 Januari, Bung Karno pernah mencanangkan hari Diponegoro, tapi sayang tidak berlanjut," terangnya.

"Dulu sebelum tahun 1950, kita nggak berani nginjek keraton. Sekarang sudah membaik hubungannya," sambungnya. (dtk)

KOMENTAR DISQUS :

TABEL LIGA

Top