Senin, 22 Juli 2019 |
FokusJambi - Internasional

CANNES Diwarnai Mogok Transport Dan Protes Brazil

Jumat, 20 Mei 2016 | 13:16:05 WIB wib Dibaca: 266 Pengunjung
ilustrasi

 

FOKUSJAMBI.COM, CANNES - Festival Film Cannes yang di gelar setiap tahun menjelang musim panas di bulan Mei tempat berkumpulnya para insan bergelut dalam dunia perfilman dari berbagai negara sering kali diwarnai dengan demo maupun protes.

Seperti halnya penyelenggaraan Festival Film Cannes tahun ini memasuki usia ke 69 tahun di kota wisata France Riveara, Cannes dari tanggal 11 sampai 22 Mei 2016.

Sayangnya kesempatan mempromosikan film Indonesia maupun pariwisata yang digalakan Kementerian Pariwisata RI tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh delegasi Indonesia yang datang ke Festival Film Cannes yang dikunjungi insan dunia perfilaman dan juga turis dari mancanegara membuat kota dipinggir pantai itu sesak dipenuhi orang disetiap sudut kafe dan restauran bertebaran.

Hal ini bisa jadi film yang dulu di bawah Kementerian Pariwisata saat ini tanggung jawab soal perfiliman ada di Kementerian Pendidikan.

Mungkin maksud pemerintah film dinggap sebagai sarana pendidikan sementara bagi orang film selain jadi industri kreatif film juga dinilai sebagai barang dagangan, karena selama Festival Film Cannes juga digelar "Marche du Cannes" maksudnya pasar dagang film internasional.

Tidak heran, M. Suyanto dari MSV Picture yang memproduksi film animasi "Batlle of Surabaya" laris manis laku di jual, karena ketua STMIKA Amikom Yogyakarta ini rajin menjajakan film-nya kemana-mana dengan bertemu banyak distributor film yang membuka "booth" di Marche du Cannes.

"Hari ini kami mengadakan 'meeting' dengan 12 orang," ujar Suyanto bersama 'marketing', Samuel kepada Antara London di kafe yang terletak di tengah Marche du Cannes pada saat makan siang.

"Kami rapatnya ya di sini sambil makan, selesai makanan kami habis deal transaksi pun langsung disetujui," ujarnya.

Rasanya booth Indonesia yang ada di pojok deretan booth lain sepi pengunjung dan juga kurang bergairah dalam menjajakan film Indonesia tidak membuat M Suyanto diam berpangku tangan, justru ia selalu menjemput bola mencari pembeli.

Penampilan booth Indonesia di Marche du Cannes tahun lalu lebih bergairah dan terasa hangat serta profesional, dengan dekorasi lebih menarik dan juga adanya bintang film Olga Lydia yang dipercaya mempromosikan Indonesia di Cannes bekerja sangat profesional.

Disela sela menjaga booth, Olga dengan penampilannya menarik rajin membuat laporan pandangan mata semacam buku harian yang dikirimkan ke rekan media.

Selain suguhan kopi dari Tanah Air untuk peminat film Indonesia datang ke booth, membuat booth Indonesia terasa hangat dan nyaman.

Sementara, penulis dan produser Batlle of Surabaya ini juga berhasil menjual film yang setengah jadi yang berjudul "Ajisaka" dan bahkan yang baru akan dibuatnya, "The Art of Peace" atau yang dikenal dengan Zhen He juga sudah ada yang beli.

Saking piawainya menjajahkan film nya pendidik yang berjiwa entrepreneur ini juga mendapat order untuk membuat film "The Massenger" senilai lima miliar rupiah.

"Rasanya saya tidak percaya," ujar pendiri dan sekaligus ketua Sekolah Tinggi Manajemen Informatik (STMIK) kalau ada orang yang begitu percaya akan kemampuan dengan memberikan 'job' yang sangat besar nilainya.

"Saya senang karena ada pesan dakwahnya," ucap peraih Phd di bidang Management dari Amerika ini.

Keberhasilan M. Suyanto di festival film Cannes juga diikuti masuknya film Indonesia "Prendjak" dalam penilaian para kritikus film juga patut mendapat pujian.

Selain itu film Marlina, The Murderer in Four Acts karya Mouly Surya terpilih dalam seleksi L'Atelier de la Cinefondation.

Ratusan Judul Film Festival film Cannes yang menayangkan ratusan judul film dari berbagai negara di banyak gedung theater yang bertebaran di kota Cannes gedung theatre utama Grand Theatre Lumiere, Palais des Festivals Cannes yang menjadi tempat para bintang film berjalan di atas karpet dengan jepretan kamera photografer dari seluruh dunia sebelum film ditayangkan.

Salah satu theatre yang cukup populer karena untuk menonton film harus antre paling tidak satu jam. Begitu pun saat penayangan film Apprentice, film garapan sutradara Singapura dengan bintang film dari Malaysia yang ingin menunjukkan "Spirit of ASEAN".

Bahkan negara ASEAN membuka paviliun khusus di pinggir pantai dan mengadakan acara "ASEAN Night".

Usai menonton film yang dibintangi Firdaus Rahman dan Mastura Ahmad dari Singapura serta aktor Su Wan Hanafi dari Malaysia dengan sutradara Boo Junfeng dari Singapura yang berkisah tentang sipir penjara para penonton yang memenuhi theatre Salle Debussy pun memberikan applaus.

Sutradara terbaik Indonesia yang ikut menonton bersama kami saat diminta komentar tentang film Apprentice itu pun tidak bergeming.

Para pemain film Apprentice masuk dalam katagori "un certain Regard," yaitu katagori untuk talenta muda yang lahir pada tahun 1978, saat berjalan di karpet merah melambaikan tangannya saat kami sebut nama mereka dari panggung khusus wartawan foto.

Berjalan di atas karpet merah saat pemutaran film primier, menjadi suatu kebanggan selain diwajibkan mengunakan gaum malam bagi artis wanita dan jas hitam untuk pria menjadi satu sensasi tersendiri.

Pada saat pemutaran perdana film Aquarius yang dibintangi Sonia Braga artis dari Brazil bersama bintang film lain nya saat memasuki gedung Grand Theatre Lumier, Palais des Festivals Cannes, mengeluarkan kertas ukuran A4 yang bertulisan protes kepada pemerintah Brazil yang korup.

Film Aguarius bercerita tentang seorang wanita yang bernama Clara tinggal di gedung Aquarius yang dibangun 1940 an garapan De Kleber Mendonca Filho.

Cannes bagi sebagian pendatang kota yang menarik terutama pada saat penyelenggaraan festival film, dengan banyaknya artis yang lalu lalang hanya saja harga-harga makanan di restauran pun melonjak.

"Kami selalu datang ke Cannes saat festival film," ujar pasangan dari Inggris yang duduk disebelah penulis dalam pesawat saat akan kembali ke Inggris.

Biasanya pada saat festival film harga makanan dan minuman naik sampai 10 persen, ungkap pria yang tinggal di daerah Nofolk.

Keramaian selama festival film Cannes yang berpenduduk 75 ribu termasuk sekitar 20 orang warga Indonesia termasuk pegawai PT Telkom yang sedang magang di Cennes Mandelieu Space Center markas besar Thales Alenia Space, tempat Indonesia memesan satelit dari Pemerintah Prancis sangat menarik meskipun kadang membuat tidak nyaman.

"Katanya mau ada demo bus mogok," kata Widi Coullet, wanita Indonesia yang menikah dengan orang Prancis dan lama menetap di Cannes.

Biasanya pada saat ada acara keramaian, para buruh transportasi baik taxi maupun kendaraan umum bus maupun kereta melakukan penuntutan kenaikan gaji. (Ant)

KOMENTAR DISQUS :

TABEL LIGA

Top