Jumat, 15 Desember 2017 |
FokusJambi - Opini Warga

THE RIGHT MAN IN THE RIGHT PLACE

Kamis, 07 Desember 2017 | 15:18:52 WIB wib Dibaca: 158 Pengunjung
Oleh : Yulfi Alfikri Noer S.IP., M.AP

Pada zaman pemerintahan Khalifah Syaidina Umar bin Khatab, ada seorang panglima perang yang disegani  lawan dan dicintai kawan. Panglima perang yang tak pernah kalah sepanjang karirnya memimpin tentara di medan perang. Baik pada saat beliau masih menjadi panglima Quraish, maupun setelah beliau masuk islam dan menjadi panglima perang umat muslim.

Beliau adalah Jenderal Khalid bin Walid, Namanya harum dimana-mana. Semua orang memujinya dan mengelu-elukannya. Beliau mendapat gelar langsung dari Rasulullah SAW yang menyebutnya sebagai, “ Pedang Allah yang Terhunus. Dia memang sangat sempurna di bidangnya, ahli siasat perang, piawai dalam berkuda, mahir segala senjata dan karismatik ditengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun dia berada  dalam puncak popularitas.

Pada suatu ketika, disaat beliau sedang berada digaris depan, memimpin peperangan, tiba-tiba datang seorang utusan dari Amirul mukminin, Syaidina Umar bin Khatab, yang mengantarkan sebuah surat. Didalam surat tersebut tertulis pesan singkat yang isinya,

 “Dengan ini saya nyatakan Jenderal Khalid bin Walid di pecat sebagai panglima perang”. Sebagai prajurit yang baik, taat pada atasan, beliaupun segera bersiap menghadap Khalifah Umar bin Khatab. Sesampainya di depan Umar beliau memberikan salam dan menanyakan alasan pemecatan dirinya. Dengan tenang Khalifah Umar bin Katab menjawab, Khalid, engkau jenderal terbaik, panglima perang terhebat. Ratusan peperangan telah kau pimpin dan tak pernah satu kalipun kalah.

Setiap hari masyarakat dan prajurit selalu menyanjungmu. Tak pernah saya mendengar orang menjelek-jelekkanmu. Tapi ingat, Khalid, kau juga adalah manusia biasa. Terlalu banyak orang memujimu bukan tidak mungkin akan timbul rasa sombong dalam hatimu. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang memiliki rasa sombong. Seberat debu rasa sombong di dalam hati maka neraka jahanamlah tempatmu. Karena itu, maafkanlah aku wahai saudaraku, untuk menjagamu terpaksa saat ini kau saya pecat. Supaya engkau tahu, jangankan di hadapan Allah, di depan Umar saja kau tak bisa berbuat apa-apa. Mendengar jawaban itu, Jenderal Khalid tertegun, bergetar dan goyah. Dan dengan segenap kekuatan yang ada beliau langsung mendekap Khalifah Umar. Sambil menangis beliau berbisik, terimakasih ya Khalifah. Engkau saudaraku.

Subhanallah, mengucapkan terimakasih setelah di pecat, padahal beliau tidak berbuat kesalahan apapun. Adakah pejabat penting saat ini di Indonesia yang mampu berlaku mulia seperti itu? Yang banyak terjadi justru melakukan perlawanan, mempertahankan jabatan mati-matian, mencari dukungan, mencari teman, mencari pembenaran atau mencari kesalahan orang lain supaya kesalahannya tertutupi. Jangankan di pecat dari jabatan yang sangat bergengsi, kegagalan atau keterlambatan dalam perjalanan karirpun seringkali tidak bisa diterima dengan lapang dada.

Akhirnya semua disalahkan, system disalahkan, orang lain disalahkan, semua di gugat bahkan yang paling ekstrim, Tuhan pun digugat. Khalid bin Walid, setelah dipecat beliau balik lagi ke medan perang. Beliau bertempur  sebagai prajurit biasa, sebagai bawahan, di pimpin oleh mantan bawahannya kemarin. Beberapa orang prajurit terheran-heran melihat mantan panglima yang gagah berani tersebut masih mau ikut ambil bagian dalam peperangan. Padahal sudah dipecat. Lalu, ada diantara mereka yang bertanya, Ya Jenderal, mengapa anda masih mau berperang? Padahal anda sudah dipecat. Dengan tenang Khalid bin Walid menjawab, Saya berperang bukan karena jabatan, popularitas, bukan juga karena Khalifah Umar. Saya berperang semata-mata karena mencari keridhaan Allah.

Dalam bukunya  Birokras dan Politik, Prof.DR. Miftah Thoha, MPA. Mengatakan bahwa moral merupakan operasional dari sikap dan pribadi seseorang yang beragama. Ajaran agama melekat pada pribadi-pribadi seseorang. Dengan melaksanakan ajaran agamanya maka moral masing-masing pelaku akan berperan besar sekali dalam menciptakan tata kepemerintahan yang baik.

Untuk pejabat-pejabat pemerintah, maka pertimbangan utama bagi setiap seleksi dan promosi pejabat birokrasi pemerintah harus didasarkan kepada pertimbangan catatan moral mereka. Gagasan yang terkandung dalam ajaran keagamaan merupakan titik tolak untuk melakukan suatu tindakan terhadap sesama manusia, lingkungan sekitarnya dan ciptaan Tuhan lainnya. Dengan gagasan keagamaan ini dapat mencakup seluruh sudut pandang yang tidak tergoyahkan dengan pengaruh atau rayuan bagaimana pun bentuknya untuk memperoleh sesuatu dengan mudah, walaupun bukan haknya, sehingga seluruh aspek dapat memenuhi kebutuhannya tercapai. 

Pada keadaan yang lebih makro, konflik bukan saja bisa terjadi antara perasaan dan kebutuhan manusia tetapi dapat terjadi antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya, karena perebutan faktor pemuas kehidupan yang sangat terbatas dan memperolehnya memerlukan teknik dan metode tertentu, baik sesuai norma-norma maupun yang bertentangan dengan norma-norma yang berlaku pada mereka. Selama ini moral selalu dikesampingkan tidak menjadi perhatian yang saksama dalam birokrasi pemerintah, hanya digunakan sebagai pelengkap permainan sumpah jabatan saja. Ketika birokrasi melakukan sumpah jabatan bagi pejabatnya, maka disusunlah rangkaian kalimat sumpah jabatan yang memuat perintah yang bersumber dari moral. Akan tetapi setelah sumpah jabatan diucapkan dan pejabat birokrasi pemerintah mulai memangku jabatannya, sumpah tersebut mudah untuk dilupakan.

Inilah salah satu penyebab banyaknya pejabat-pejabat public yang berhubungan dengan KPK, Kejaksaan dan Kepolisian. Sebuah cuplikan kisah yang sangat indah dari seorang Jenderal, Panglima Perang Khalid bin Walid, dengan gelar Pedang Allah yang Terhunus, patut di renungkan, di hayati dan di implementasikan oleh pejabat-pejabat publik di Indonesia.(*)

 

Penulis adalah Dosen Luar Biasa Fak. Syariah UIN. STS JAMBI

 

 

 

LAINNYA

KOMENTAR DISQUS :

TABEL LIGA

Top