Sabtu, 16 Desember 2017 |
FokusJambi - Hukum & Kriminal - Peristiwa & Umum - Kesehatan & Gaya Hidup

Pembelaan 'Nyeleneh' Ortu Penelantar Anak: Titisan Majapahit hingga Rasa Rindu

Sabtu, 23 Mei 2015 | 10:46:15 WIB wib Dibaca: 980 Pengunjung

Laporan Fokusjambi.com

FOKUSJAMBI.COM, JAKARTA - Suami istri Utomo Perbowo alias Tomi dan Nurindria Sari alias Iin telah menjalani tes kejiwaan di RS Polri. Orangtua penelantar 5 anaknya ini bahkan melontarkan sesumbar sebagai titisan Majapahit. Namun, perkataan Utomo dan Iin perlu diteliti lagi kebenarannya.

Pasutri itu menjalani tes kejiwaan sekitar 3 jam di RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur, pada 22 Mei 2015. Utomo yang mengenakan kemeja putih dan tutup kepala berwarna putih usai pemeriksaan sempat berteriak, "Saya titisan Pangeran Samber Nyawa dari Majapahit."

Pengacara Utomo dan Iin, Handika Honggowongso, menceritakan Utomo juga menyebut istrinya keturunan Tribuana Tunggadewi, ratu Majapahit.

Berbeda dengan sang suami, Iin banyak berdiam diri. Ia terus menundukkan kepalanya. Menurut Handika, Iin sangat rindu dengan anak-anaknya, terutama putri bungsunya yang masih kecil. Iin juga sedih ketika batal dipertemukan dengan buah hatinya. Iin juga sempat sesumbar sebagai anak jenderal dan membawa-bawa nama Istana. Benar atau tidaknya ungkapan Utomo perlu dilakukan penelitian.

Berikut 5 ungkapan Utomo dan Iin:

1. Titisan Majapahit

Suami istri Utomo Perbowo alias Tomi dan Nurindria Sari alias Iin sempat berkoar dirinya adalah keturunan kerajaan di masa lalu usai diperiksa di Poliklinik RS Polri. Utomo menyebut istrinya keturunan Tribuana Tunggadewi, ratu Majapahit.

"Kalau suami mengaku sebagai keturunan Pangeran Samber Nyowo. Raja Mangkunegara pertama di Solo," ujar kuasa hukum Utomo dan Iin, Handika Honggowongso di RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur, Jumat (22/5/2015).

Selain mengaku sebagai keturunan kerajaan Mataram, Utomo juga menyebut istrinya adalah titisan Tribuana Tunggadewi yang pernah duduk sebagai ratu Kerajaan Majapahit.

"Keyakinan dia itu diperoleh dari semacam bisikan gaib, membimbing dia melakukan ritual secara keislaman dan kejawen sudah hampir 6 bulan," ucap Handika.

Sedang Iin hanya terdiam. Dia hanya berjalan tertunduk. Tak ada kata-kata lagi yang diucapkan. Keduanya ditahan di Mapolda Metro Jaya. Polisi juga menyita sejumlah paket sabu dari rumah mereka di Cibubur.

2. Rindu Anak

Iin mengaku kangen terhadap anak-anaknya.

"Dia sangat sayang anaknya, bahkan ketika ditunda ketemu dia nangis. Dia bilang, kalau ketemu anak harus bilang apa. Dia nggak tega," jelas

Kuasa hukum Utomo dan Iin, Handika Honggowongso, RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (22/5/2015).

Hal yang berbeda disampaikan komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Maria Ulfa. Selama anak-anaknya ditangani oleh KPAI, Utomo dan Iin yang berada di pengawasan Polda Metro Jaya tidak bertanya soal buah hati mereka itu.

"Tidak," kata Maria.

Sementara itu, Sekjen KPAI Erlinda mengatakan kondisi kelima anak Utomo dan Iin saat ini sudah stabil. KPAI memastikan pihaknya selalu melakukan pendampingan. "Kalau dibutuhkan dipertemukan, dipertemukan. Kalau tidak, itukan tidak. Jadi belum pasti akan dipertemukan atau tidak," kata Erlinda.

Meski Utomo dan Iin tidak pernah menanyakan soal anak mereka, namun anak-anak mereka ingin bertemu dengan kedua orangtuanya.

"Ya pastilah, anak-anak ini kan anak baik sekali dan soleh. Wajarlah mereka, walaupun memang kalau di antara ke lima itu yang benar-benar tidak mau ketemu itu ada. Tapi untuk yang paling kecil, pastilah namanya ibu itu seperti apa dia tahu," terangnya

Terkait rencana pengalihan pengasuhan, Erlinda menjelaskan hal tersebut kemungkinan akan dilakukan tetapi menunggu hasil penilaian psikologi di RS Polri Kramatjati keluar. "Kalau itu iya. Asessment sudah dilakukan dan kurang lebih 30-40 persen (prosesnya)," ujarnya.

3. Konsumsi Sabu Bagian 'Tirakat'

Suami istri Utomo Perbowo alias Tomi dan Nurindria Sari alias Iin sempat berkoar dirinya adalah keturunan Kerajaan Majapahit usai diperiksa di Poliklinik RS Polri. Utomo mendapatkan 'keyakinan' itu dalam 3 bulan terakhir.

"Riwayat yang ada sekitar 3 bulan lalu ada pemahaman atas keyakinan dia. Enggak tahu benar atau tidak, tapi menurut dokter ada yang perlu diobservasi," ujar kuasa hukum Utomo dan Iin, Handika Honggowongso di RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur, Jumat (22/5/2015).

Handika mengatakan Utomo juga meyakini bahwa istrinya dan dirinya memiliki darah pangeran. Bahkan Utomo dalam beberapa bulan terakhir melakukan tradisi kejawen.

"Dalam rangka obsesi dan merealisasi panggilan ghaib. Nanti diobservasi," terangnya.

Terkait penggunaan sabu, Handoko juga menjelaskan bahwa hal itu bagian dari tirakat dan zikir, termasuk mengunci diri dan menelantarkan kelima anaknya. "Iya itu bagian dia proses dia," ucapnya.

Soal kondisi Iin, Handoko menggambarkan kejiwaan pasangan Utomo ini masih labil. Iin disebut lebih banyak menangis dan tersenyum daripada berbicara.

"Untuk urus diri sendiri saja dia tak bisa normal," jelas Handika.

4. Jika Marah, Ubin dan Genteng Pecah

Utomo Perbowo alias Tomi berkoar sebagai keturunan Kerajaan Mataram, sedang istrinya, Iin, keturunan Tribuana Tunggadewi, ratu Majapahit. Utomo juga mengaku dapat melakukan hal 'aneh' jika sedang marah.

"Dia menceritakan banyak kejadian aneh dia alami selama 6 bulan. Seperti ketika marah ubinnya retak, ketika marah gentengnya pecah," ujar kuasa hukum Utomo dan Iin, Handika Honggowongso, di RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur, Jumat (22/5/2015).

Termasuk soal perilakunya, Utomo selalu beranggapan dirinya adalah keturunan raja yang bebas bertindak sesuka hatinya.

"Anak raja dalam tradisi Jawa nggak boleh diatur, mau makan, makan. Main, main," ucapnya.

5. Klaim Anak Jenderal

Pasangan suami istri Utomo Perbowo alias Tomi dan Nurindria Sari alias Iin terus diperiksa polisi terkait penelantaran 5 anaknya. Hasil penelusuran sementara tim gabungan KPAI, Kemensos dan beberapa lembaga lainnya, Iin kerap membentak tetangganya.

"Sampai saat ini ibunya patut diduga mengalami gangguan kejiwaan tapi kita masih menunggu hasil tes psikologinya. Dalam observasi awal, sang ibu mengalami penyimpangan sosial," kata Sekjen KPAI Erlinda dalam dialog interaktif 'penyalahgunaan narkoba dan pengaruhnya pada perkembangan psikologi anak' di Kantor BNN, Cawang, Jaktim, Kamis (21/5/2015).

Dalam acara ini juga hadir Kepala BNN Anang Iskandar dan pimpinan redaksi ‎detikcom Arifin Asydhad yang mewakili praktisi media. Menurut Erlinda, Iin sering mengancam warga sekitar rumahnya di Cibubur dengan mengaku sebagai anak jenderal, bahkan menyebut 'Istana Negara'.

"Ibunya mengancam penduduk dan warga, dia akan mengaku anak jenderal bahkan membawa istana. Namun ini hanya halusinasinya saja. Kita belum tahu apakah itu karena pengaruh kelainan kejiwaan atau karena pengaruh narkoba," sambungnya.

IIn sering membentak bahkan memarahi tetangganya yang kerap memberi makan anak-anaknya. Yang jelas, Iin tak memenuhi kewajibannya sebagai ibu karena tidak memberikan hak dasar anak baik jasmani maupun rohani.

"Anaknya tidak bergizi dan memiliki karakter bersosialisasi temperamen," ucapnya.

Anang Iskandar mengatakan pengaruh narkoba memang sangat besar dampaknya untuk keluarga. Jika orang tua sudah mengkonsumsi narkoba, maka anak-anaknya akan telantar.

"Jika anak yang mengkonsumsi (narkoba), maka orang tuanya akan miskin dan jika orang tua yang mengkonsumsi, maka masa depan anak-anak yang akan terancam," ucap Anang.

Saat ini penyidikan pada Utomo dan Iin masih terus dilakukan. Iin diduga memiliki kelainan kejiwaan sebelum mengkonsumsi narkoba. (dtk)

LAINNYA

KOMENTAR DISQUS :

TABEL LIGA

Top